Jagat media sosial, terutama TikTok, tengah diramaikan oleh pencarian kata kunci “Video Teh Pucuk” yang dikaitkan dengan durasi 17 menit. Topik ini mendadak viral dan memantik rasa penasaran warganet dalam beberapa hari terakhir.
Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai asal-usul isu tersebut. Meski demikian, tren ini terus bergulir dan memicu gelombang konten serupa yang bermunculan di linimasa.
Konten Ramai, Substansi Minim
Pantauan di TikTok menunjukkan sebagian besar unggahan yang mengangkat topik ini justru tidak menjelaskan konteks yang dimaksud. Banyak video hanya menampilkan gambar atau cuplikan produk minuman kemasan tersebut tanpa narasi yang utuh maupun klarifikasi mengenai video 17 menit yang ramai dibicarakan.
Fenomena ini diduga kuat berkaitan dengan efek fomo (fear of missing out), di mana kreator memanfaatkan isu yang sedang tren demi mendongkrak interaksi dan jumlah penonton.
Salah satu akun, @rh_creator26, mengaku ikut membuat konten lantaran topik tersebut kerap muncul di berandanya. Dalam videonya yang telah ditonton puluhan ribu kali, ia menyebut tren itu ramai diperbincangkan dan banyak diunggah pengguna lain.
Spekulasi dan Ancaman Keamanan Digital
Narasi yang berkembang menyebut adanya video asusila atau rekaman rahasia di balik istilah “Teh Pucuk 17 Menit”. Namun, hingga saat ini klaim tersebut belum dapat diverifikasi dan cenderung bersifat spekulatif.
Situasi ini berpotensi dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk menyebarkan tautan palsu atau link phising. Modusnya beragam, mulai dari janji akses video penuh hingga iming-iming konten eksklusif.
Pengguna internet diimbau tidak sembarangan mengeklik tautan yang beredar. Banyak di antaranya mengarah pada halaman berisi iklan agresif, konten dewasa, bahkan malware yang berisiko mencuri data pribadi atau mengambil alih akun media sosial.
Alih-alih terjebak rasa penasaran, masyarakat disarankan tetap kritis dan memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau membagikannya. Tren viral yang belum jelas kebenarannya kerap menjadi celah bagi kejahatan siber untuk menyasar pengguna yang lengah. (sb/*)